Raden Ayu S. W******** – my number one person – my lovely mother

(Harap maklum dengan penyensoran nama Mami. Demi gak ke-trace google nama emak saya. Demi keamanan account bank kalo amit-amit kenapa2 dan ditanya siapa nama ibu :mrgreen: )

———————————————————–

Jika seseorang bertanya padaku, siapa yang manusia yang paling ku sayang??? Kan ku jawab: mami. (manusia yang paling ku cintai setelah Rasulullah SAW)

Beliau lahir di Pamekasan, Madura, pada tanggal 1 Oktober 1960, anak ke 8 dari Sembilan bersaudara.

Apa yang membuat beliau begitu berharga bagiku? Karena dia ibuku.
Bukan, bukan itu saja. Banyak yang sangat special darinya.

Bisakah ku sebutkan satu persatu?? Tidak. Terlalu banyak. Dan juga terlalu special untuk diceritakan

Seberapa besar cinta ku padanya?? Apa perlu ku jawab.. cinta tidak untuk dikatakan, tapi dilakukan, ditunjukkan….dengan perbuatan halus dan indah

Apa pengorbanan terbesarnya?? Semua yang dilakukan beliau untukku adalah pengorbanan, pengorbanan yang menunjukkan cinta nya padaku.

Kejadian apa yang paling aku ingat?? Saat itu aku duduk di kelas 3 SMA Negeri 2 Bukittinggi. Suhu badanku jika diukur mungkin hampir 41 derajat celcius, sayangnya di rumah saat itu thermometer nya rusak. Aku demam. Demam karena kecapean dengan tugas dan kegiatan yang notabene saat itu aku hampir kelulusan SMA. Aku terkapar di kamarku. Di kasur yang dingin (bukittinggi dingin). Memakai jaket pinjaman seseorang (jaketku jarang dipake dan ilang entah kemana, mungkin di lemari bagian bawah). Aku tidak bisa melakukan apapun, bahkan untuk bergerak saja tidak enak. Hanya sesekali merintih. Aku kedinginan, tapi badaku sangat panas. Tiba2 mami dateng bawa sepiring kecil minyak tanah, dan mengusapkannya ke sekujur badanku. Punggung, perut, kaki, tangan….mulutnya tidak berhenti berzikir dan bersalawat saat mengusapkan minyak tanah itu. Aku bertanya: kenapa minyak tanah mi? mami jawab: minyak tanah itu bagus nak….
Hanya itu. Hanya itu jawaban mami. Aku pun hampir tertidur karena saking lamanya mami melakukan itu, bibirnya terus melafadzkan kalimat2 Allah, dan doa. Air matanya berlinang…. Ya Allah…

Tapi yang tidak ku duga adalah, tidak lebih dari dua jam kemudian suhu badanku turun. Aku mulai segar, dan hampir sembuh total. Apa yang bisa ku ambil dari sini?? Doa mami, doa seorang ibu, doa penuh ketulusan, yang dilakukan tanpa pamrih, dan penuh perngharapan hingga keluar air matanya… Ya Allah…aku ingin waktu itu terulang kembali, waktu di mana aku bisa berlama-lama di dekat mami

Apa yang paling aku tak mau lihat?? Beliau menangis karena aku menyakitinya….naudzubillah

Sekarang, setelah aku berada jauh dengan nya, jika aku mendapat telpon dari nya, aku senang, dan seakan semangat ku terisi kembali. Aku selalu ingat bagaimana mami member kami semangat saat kami merasa jatuh, mami selalu dapat menemukan hikmah di balik semua kejadian yang kami (anak2nya) alami. Mami mengajarkan kami untuk terus bermimpi, dan melarang kami untuk mengosongkan mimpi kami. Mami bilang untuk terus berdoa dan berharap, dan jalani apa yang ada di depan mata, sebaik-baiknya, karena kita tidak pernah tahu rencana Allah. Mami bilang jangan pernah mencoba dengan sengaja menyakiti orang lain. mami bilang bersabarlah. Mami bilang tenanglah.
Jika aku berbuat konyol, mami tertawa, dan mengatakan hal yang benar kepadaku. Semua tentang ku mami tahu, tentang sahabat2ku, tentang pelajaran atau kuliahku, tentang kisah ku, tentang dosen ku, tentang perasaanku. Jik a ada kesempatan untuk bicara panjang, dari A-Z tidak akan tertinggal. Mami penjaga rahasia yang handal. Mami wajahnya penuh kasih, menyejukkan, dan terlihat muda. Mami yang mengajarkanku untuk suka membaca. Mami yang mengajarkanku untuk ibadah sunnah. Mami selalu mengingatkan ku di saat aku tinggi, dan menyemangatiku di saat aku jatuh

Sosok ibu seperti apa lagi yang ku harapkan?? Semua yang seorang harapkan dari seorang ibu sudah ku dapatkan dari mami

Terima kasih ya Allah…. Terima kasih. Engkau memberiku ibu, benar-benar ibu. Yang mengasihi kami setulus-tulusnya, dan memerankan perannya sebaik-baiknya

Aku teringat suatu kejadian yang mengingatkanku betapa kuatnya hubungan antara anak dan ibunya. Hari itu hari libur kuliah (lupa kenapa), seharian di kos sendirian, aku adalah pecinta kesendirian, pecinta ketenangan. Maka senang2 aja di kos sendirian. Tetapi entah kenapa sore harinya hati ku cemas, gundah, takut, dan rasanya dada ku sesak. Aku mengingat2 apakah aku belum sholat? Ataukan ada kewajiban lain yang belum ku kerjakan? Tidak, semua sudah beres. Tapi cemas itu tidak hilang hingga maghrib. Aku bingung sendiri. Akhirnya aku sms-an ma teman kampus, dan janjian untuk nginep di kos nya. Itu bukan Aku !!!! Seorang aku paling malas jika diminta nginep di tempat orang lain, apalagi aku cinta sendirian…ketenangan. Akhirnya aku nginep tempat teman, dan malamnya aku susah tidur, masih cemas. Hingga aku sms mami minta ditelpon bsok paginya…

Esoknya, mami menelponku. Dialog awal percakapan kira2 bgini:
Aku : halo mi..

Mami: (diam) ada apa nak???

Aku : (hampir menangis) kakak takut mi….kakak cemas, tapi gtw kenapa…dari sore kemaren…

Mami: (terdiam)

Aku : kenapa ya mi? kenapa kakak begitu? Kenapa kakak takut banget padahal gak da apa2. Atau sekarang mami papi sekeluarga lagi ada masalah? Kok kakak secemas ini?

Mami: sebenernya kemaren sore…….blablabla (mami bercerita tentang apa yang terjadi hari dimana aku ketakutan tanpa alasan, ternyata memang ada kejadian serius yang tidak enak)

Mendengarnya aku sangat terkejut dan ingin rasanya memeluk mami sekeluarga. Aku juga takjub, perasaan takut itu begitu nyata, ikatan batin begitu terasa…. Allah Maha Besar

Aku ingin seperti mami yang begitu solehah, bagaiman tidak??? Setiap malam mami tidur lebih cepat dan bangun jam 3 pagi untuk sholat malam dan zikir sebanyak2nya hingga pagi. Bibirnya jika tidak sedang bicara, selalu berdzikir.

Aku ingin seperti mami yang begitu setia sebagai seorang istri. Terus mendampingi papi, senang maupun susah. Kesetiaan yang oleh Rasul sangat diagungkan dari seorang wanita.

Aku ingin seperti mami yang bisa menjadi ibu, dan sahabat untuk anak-anaknya. Hingga aku merasa aman dan nyaman untuk menceritakan semua masalah dan rahasia ku padanya. Tanpa satu pun tertinggal. Dan mami tidak pernah iktu campur urusanku. Mami memberi dukungan pada kami. Nasehat. Saran. Dan member keleluasaan pada kami untuk bertindak sesuai batasan2nya. Mami mendidik kami dengan cara itu.

Mami memperkenalkan ku pada musik klasik. Mami mengajarkan ku bermain piano. Yang secara tidak langsung mempengaruhi kepribadianku. Mami mengajarkanku membaca dan mengaji. Mami juga yang membuatku cinta pelajaran bahasa inggris.

Ya Allah….terima kasih engkau menjadikanku anaknya. Engkau memilihkan aku ibu yang diharapkan banyak anak…terima kasih memberiku kesempatan hidup bersamanya….ya Allah…ku mohon lindungilah dia untukku…untuk kami… anak-anaknya, dan juga untuk papi, juga untuk orang-orang yang menyayangi dan disayangi oleh nya..

Mercy….

Aishiteru , mami…

Advertisements

Tell me anything :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s