Tangis Dalam Shalat

Kemarin malam, saat shalat isya berjama’ah di kampus, kebetulan akhwat di sebelah kiri saya sesenggukan. Flu mungkin, batin saya

Setelah salam, dia masih sesenggukan, tambah parah pula. Dia bukan flu, tetapi menangis. Dia dengan khusyuk berdoa, menangis…. dan sangat tampak kepasrahan dalam dirinya kepada Allah SWT. Subhanallah…. Indah..

Dia kemudia melipat mukena yang dia pakai, dan teman akhwat saya yang lain pun mendatangi si akhwat-yang-nangis, dan memeluknya. Ini juga indah…

Apa yang dapat dipelajari dari sini?

  1. Tidak ada curhat paling nikmat kecuali curhat pada Nya. Curhat pada manusia hanyalah wujud fisik didengarkan, tetapi wujud abstrak mendapat hidayah. Sedangkan curhat padaNya, adalah wujud abstrak didengarkan, tetapi wujud nyata diberi hidayah.
  2. Saat seseorang bersedih, tenangkanlah ia. Jadi ingat status FB seorang teman, bahwa ada ilmu yang mengatakan jika ada orang yang bersedih, hiburlah ia, tetapi jika sudah ada yang mendatanginya sebelum kita, maka kewajiban kita untuk menghiburnya telah luntur. Ya, buat apa juga kita berkerumun menenangkan satu orang, karena pada dasarnya manusia senang menyembunyikan masalahnya.
  3. Saya sangat sadar bahwa saya bukanlah orang on-the-stage. Saya tidak bisa berekspresi atas perhatian saya terhadap orang, walau saya sangat perhatian. Saya hanya bisa berekspresi pada orang tertentu saja (family, and close friend). Mungkin jika sudah tidak ada orang di musholla, barulah saya datangi akhwat-yang-nangis itu. Jadi jangan salah paham ya, kawan…
Advertisements
Categories FYI

Tell me anything :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s